Pembuatan Akte Kelahiran Masal di Garut Dikenakan Biaya Ratusan Ribu Rupiah

Sekdes Pasirwangi
Pada bulan Mei 2013 ini, di kabupaten Garut diselenggarakan pembuatan akte kelahiran masal. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Sekdes Pasirwangi kecamatan Pasirwangi kabupaten Garut, Zaki Lesmana, sewaktu melayani warga yang mengajukan pembuatan akte kelahiran.

Pengajuan pembuatan akte kelahiran sendiri bertempat di kantor kepala desa di setiap kecamatan di Garut. Menurut Zaki, untuk pengajuan sendiri dikenakan biaya Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per orang. Jumlah itu sudah termasuk biaya pembuatan surat keterangan menikah orang tua.

Rencananya, pembuatan akte kelahiran tersebut akan berlangsung hingga Sabtu (18/5). Namun, mayoritas warga tak kunjung mengajuakan pembuatan akte itu. Alasannya adalah karena warga tak mampu untuk mebayar biayanya. Apa lagi kebanyakan warga yang belum mempunyai akte kelahiran itu adalah warga miskin. Tentu saja uang Rp 150 ribu itu bukan jumlah yang kecil. Terlebih jumlah anak mereka rata-rata lebih dari dua, dan kesemuanya belum memiliki akte kelahiran. Sudah barang tentu butuh biaya yang lebih besar untuk membuatnya. Sehingga akhirnya para warga memilih untuk tidak membuatnya.

Di desa lain, biayanya bahkan lebih besar lagi. Menurut Lala Latifah, warga desa Bojong Waru kecamatan Pasirwangi kabupaten Garut, menyebutkan untuk membuat akte kelahiran dikenakan biaya Rp 200 ribu per orang. Tentu saja jumlah tersebut lebih mahal lagi. Pernyataan itu juga dibenarkan Bu Cicin, warga desa Sukaratu kecamatan Banyuresmi kabupaten Garut. Menurut Bu Cicin, harga pembuatan akte kelahiran di desanya itu mahal. Sehingga dirinya tidak jadi membuat akte kelahiran itu unutk anaknya.

Pembuatan akte kelahiran masal di Garut intinya banyak dikeluhkan warga. Padahal sekarang ini akte kelahiran tersebut sangat dibutuhkan. Hal ini terutama bagi anak-anak sekolah yang dituntut untuk memberikan fotokopi akte kelahiran ke sekolah. Tanpa terkecuali bagi siswa miskin sekali pun. Hal itu untuk kelengkapan administrasi siswa di sekolah. Padahal unuk membuatnya saja dibutuhkan biaya yang di luar kemampuan warga miskin tersebut.


SHARE THIS

Author:

Previous Post
Next Post