Dampak Angkot Mogok, Pelajar dan Warga jadi Terlantar

Angkot Samarang melakukan mogok terkait kenaikan BBM
Rombongan para pelajar di kecamatan Samarang terpaksa harus berjalan kaki ketika berangkat sekolah ke SMP Negeri 1 Samarang. Lebih dari satu jam mereka berdiri di pinggir jalan raya Samarang untuk menunggu Ankot jurusan terminal Guntur-Cibodas yang melewati jalan tersebut. Namun ternyata setelah lama mereka menunggu, Angkot yang dinantinya tak kunjung muncul. Sehingga para siswa pun terpaksa harus rela berjalan kaki menuju sekolah.

Tak hanya siswa SMP, para siswa SD dan SMA pun hanya bisa menunggu Angkot di pinggir jalan. Mereka kesal karena tak satu pun Angkot yang muncul untuk mengangkut mereka. Para siswa menduga Angkot-angkot berhenti beroperasi karena BBM naik.

Selain para siswa, hal ini pun dirasakan oleh warga lain pengguna jasa angkutan umum. Mereka merasa telah membuang waktu lama untuk menunggu angkutan umum yang tak kunjung datang.

Baik siswa maupun warga masyarakat, tidak mengetahui sebelumnya bahwa akan ada aksi mogok kendaraan umum. Sehingga mereka pun tidak mengantisipasinya.

Menanggapi kondisi yang terjadi, wakil bupati Garut, dr. Helmi Budiman, menyatakan bahwa pada prinsipnya pihak pemerintah Kabupaten Garut tidak sejalan dengan kebijakan yang diputuskan pemerintah pusat. Namun meskipun demikian pihak Pemda hari ini (18/11) membentuk tim kajian untuk membahas penyesuaian tarif angkutan umum.

“Dalam hal ini kita harus proaktif, kita akan menyesuaikan. Kalau kita tidak sesuaikan, yang terjadi adalah Angkot mogok. Kalau Angkot mogok kan yang menjadi korban adalah anak-anak yang mau sekolah.”

Untuk besaran kenaikkan tarif, Pemerintah Daerah bersama Organda dan Dinas Perhubungan, belum bisa menentukan hari ini. Pemerintah pun meminta Angkot untuk  tetap beroperasi  seperti biasa.  Soal besaran tarif, hal itu bisa dibicarakan dengan penumpang berdasarkan kesepakatan, sambil menunggu keputusan pemerintah mengenai tarif angkutan yang baru.



SHARE THIS

Author:

Previous Post
Next Post