Evakuasi Korban Pesawat QZ8501 Dikecewakan SOP Tim SAR

Gambar Ilustrasi
Di tengah munculnya berbagai pujian terhadap Tim SAR Indonesia (Basarnas) yang mampu menemukan pesawat airasia QZ8501 hanya dalam waktu 3 hari setelah dinyatakan hilang pada Minggu (28/12/14) yang lalu, peristiwa tersebut kini tinggal menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban. Terlebih beberapa korban baru ditemukan di hari ke-3 pencarian, dan itu pun dalam kondisi meninggal dunia.

Ada hal yang sedikit janggal dari evakuasi korban yang dilakukan. Hal tersebut yaitu pada jenazah korban tidak ditemukan bekas luka layaknya korban kecelakaan. Hal ini memunculkan spekulasi bahwa pesawat berhasil landing di permukaan laut tanpa mengalami kerusakan di udara. Selanjutnya beberapa puing yang ditemukan berupa pintu darurat, benda yang merupakan perahu angin, dan yang lainnya adalah alat yang biasa digunakan untuk memompa perahu angin tersebut.

Dengan melihat fakta yang ditemukan dalam proses evakuasi, maka dimungkinkan pada saat pesawat landing di permukaan laut, para penumpang masih dalam keadaan selamat. Kemudian para awak yang termasuk pramugari pesawat segera melakukan langkah evakuasi darurat terhadap penumpang dengan segera menyiapkan alat evakuasi berupa perahu angin dan membuka pintu darurat. Namun dalam proses tersebut terganggu dengan gelombang air laut yang mencapat 3 meter. Sehingga proses evakuasi darurat tersebut tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Sayangnya dalam penemuan jenazah korban, belum tampak ada yang mengenakan pelampung. Hal ini kemungkinan sang pilot tidak sempat menginstruksikannya kepada para penumpang. Mengingat hanya sekitar 6 menit dari waktu kontak pilot dengan ATC ketika meminta izin menaikkan ketinggian hingga sinyal pesawat hilang dari radar. Kemungkinan pada waktu tersebut pilot tengah berusaha mengendalikan pesawat yang sedang mengalami turbulensi tinggi karena cuaca buruk yang tak bisa dihindari disebabkan tengah menunggu izin menaikkan ketinggian dari ATC.

Setelah itu, Standard Operating Procedures (SOP) Tim SAR untuk melakukan pencarian dan evakuasi mulai dilakukan tahap demi tahap. Mulai dari menunggu waktu hingga mencapai 1 jam sejak sinyal pesawat hilang dari radar hingga Basarnas dikontak ATC mengenai pernyataan pesawat telah hilang. Padahal pesawat sendiri baru terbang sekitar 42 menit saja sejak take off hingga hilang dari radar (take off: 05.36, hilang dari radar: 06.18, Dirjen Perhubungan mengontak Basarnas: 07.08).

Seandainya saja dalam SOP Basarnas terdapat tahap pencarian dan evakuasi darurat, dimana ketika pesawat hilang dari radar dan sejak itu pula Basarnas dikontak oleh Dirjen Perhubungan, dan kemudian langsung mengejar titik di mana pesawat dinyatakan hilang. Maka dimungkinkan hanya sekitar 1 jam saja pesawat Basarnas sudah berada di titik yang sama di mana pesawat QZ8501 hilang dari radar. Dengan demikian sangat besar kemungkinannya pesawat airasia tersebut dapat dengan cepat ditemukan. Sehingga sangat dimungkinkan korban dapat diselamatkan tanpa harus menunggu waktu 3 hari, dan itu pun dalam keadaan tak bernyawa.

Namun pengandaian tinggal pengandaian saja. Pencarian pesawat dimulai sekitar pukul 12.00, dan itu pun terkendala cuaca buruk. Sehingga pencarian pun tidak dapat dilakukan secara maksimal. Selain itu pencarian pun segera dihentikan karena hari mulai malam. Tim SAR pun memutuskan untuk melanjutkan pencarian besak harinya, yaitu Senin (29/12/14) pagi.

Logikanya, walaupun korban berhasil selamat ketika pesawat landing di permukaan laut. Namun kecil kemungkinannya korban dapat bertahan di tengah laut selama sehari semalam dalam keadaan cuaca buruk dan gelombang tinggi. Sehingga pencarian yang dilakukan pada hari Selasa dinilai sia-sia jika acuannya menyelamatkan nyawa korban.

Akhirnya, tak ada seorang pun yang bisa menghindar dari ketentuan Tuhan. Seabagaimana pun manusia berusaha, hasilnya Tuhan yang menentukan. Namun sebagai manusia yang berwujud paling sempurna dan dikaruniai akal, sudah seharusnya mampu berupaya dengan semaksimal mungkin. Semoga saja Basarnas ke depan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugas mulianya. Termasuk dalam melaksanakan SOP-nya tak terhalang cuaca buruk, waktu, dan juga peralatan yang digunakannya.



SHARE THIS

Author:

Previous Post
Next Post